Apa Itu RGB? – Sebagai seorang desainer grafis di Ben Multimedia, saya sering mendapat pertanyaan dari klien: “Mas, sebenarnya apa itu RGB?” dan “Kenapa kalau desain buat Instagram warnanya beda ketika dicetak?”.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut wajar, karena tidak semua orang paham bahwa dunia digital dan dunia cetak memiliki sistem warna yang berbeda.
Nah, untuk menjawab pertanyaan di atas, dalam artikel ini saya akan membahas tuntas mulai dari pengertian RGB, cara kerjanya, hingga perbedaan RGB dengan CMYK.
Table of Contents
Apa Itu RGB?
Pertama mari kita bahas pengertiannya, RGB adalah salah satu model materi warna desain grafis yang paling banyak digunakan di dunia digital.
Lalu apa kepanjangan dari RGB? Jawabannya adalah Red, Green, Blue.
Jadi, RGB adalah singkatan dari tiga warna cahaya utama yang jika digabungkan akan menghasilkan spektrum warna yang sangat luas.
Secara sederhana, warna RGB adalah hasil pencampuran cahaya merah, hijau, dan biru.
Itulah mengapa RGB sering digunakan pada layar monitor, televisi, kamera digital, hingga smartphone.
Kalau kamu perhatikan dengan teliti layar gadget, sebenarnya gambar yang terlihat penuh warna itu hanya kombinasi jutaan titik kecil dari RGB colors.
Sejarah RGB
Ketika kita berbicara tentang apa itu RGB, sebenarnya kita sedang membahas salah satu konsep warna paling tua dalam sejarah ilmu optik.
Sistem RGB adalah hasil dari perkembangan panjang penelitian para ilmuwan mengenai cahaya dan warna.
Perjalanan ini dimulai pada abad ke-17, ketika Isaac Newton melakukan eksperimen dengan prisma kaca.
Dari sana ia menemukan bahwa cahaya putih dapat diuraikan menjadi berbagai warna.
Penemuan ini menjadi titik awal lahirnya teori warna modern.
Kemudian pada abad ke-19, ilmuwan Thomas Young dan Hermann von Helmholtz memperkenalkan teori trichromatic vision atau penglihatan tiga warna.
Mereka berpendapat bahwa mata manusia memiliki tiga jenis reseptor cahaya utama: merah, hijau, dan biru.
Teori inilah yang akhirnya menjadi dasar dari sistem RGB colors yang kita kenal sekarang.
Di era modern, konsep warna RGB adalah fondasi utama dalam dunia digital. Monitor komputer, televisi, kamera, hingga layar smartphone semuanya bekerja dengan prinsip aditif cahaya merah, hijau, dan biru.
Saya pribadi, sebagai desainer di Ben Multimedia, selalu kagum bagaimana teknologi yang kita gunakan sehari-hari ternyata berakar dari teori optik berabad-abad lalu.
Seiring berkembangnya teknologi, penggunaan RGB tidak hanya sebatas tampilan layar, tetapi juga diterapkan dalam bidang fotografi, sinema, bahkan penelitian visual.
Ini menunjukkan bahwa pengertian RGB bukan hanya soal teknis desain, melainkan juga bagian dari ilmu pengetahuan tentang bagaimana manusia melihat dunia.
Seperti yang disebutkan dalam jurnal Color Research and Application (2018):
“RGB color model remains fundamental in digital imaging, as it mirrors the human visual system and its trichromatic nature.”
Cara Kerja Warna RGB
Kalau kita bicara soal warna RGB, sebenarnya konsepnya mirip seperti ketika kita bermain senter warna-warni di ruangan gelap.
RGB adalah model warna berbasis cahaya yang terdiri dari tiga warna utama: Red (merah), Green (hijau), dan Blue (biru).
Cara kerjanya menggunakan sistem aditif, yaitu semakin banyak cahaya yang ditambahkan, semakin terang hasil warnanya.
Jadi, kalau cahaya merah, hijau, dan biru dipancarkan bersamaan dengan intensitas penuh, maka hasil akhirnya adalah putih.
Sebaliknya, jika tidak ada cahaya sama sekali, maka hasilnya hitam.
- Merah + Hijau = Kuning
- Merah + Biru = Magenta
- Hijau + Biru = Cyan
- Merah + Hijau + Biru (100%) = Putih
Inilah alasan mengapa layar komputer bisa menampilkan gambar yang sangat berwarna-warni.
Semua berasal dari kombinasi RGB colors yang saling berpadu.
Fungsi RGB
Kalau kamu pernah bertanya-tanya “Sebenarnya apa sih fungsi RGB?” jawabannya cukup mudah: RGB berfungsi untuk menampilkan warna pada semua perangkat digital berbasis layar.
Model warna ini bekerja dengan cara menggabungkan tiga cahaya utama, Red (merah), Green (hijau), dan Blue (biru).
Dari kombinasi cahaya tersebut, tercipta jutaan warna yang kita lihat setiap hari di monitor komputer, TV, kamera digital, hingga smartphone.
Bayangkan saja saat kamu sedang menonton film di laptop.
Gambar yang tampak begitu hidup dengan langit biru, wajah aktor yang natural, hingga suasana malam yang penuh lampu warna-warni semuanya dihasilkan oleh sistem warna RGB.
Tanpa RGB, layar hanya akan menampilkan gambar hitam putih.
Kelebihan RGB
- Cocok untuk media digital
Karena RGB adalah model warna berbasis cahaya, tampilannya sangat optimal di layar monitor, TV, kamera, hingga smartphone. Warna terlihat cerah, tajam, dan lebih hidup. - Memiliki jangkauan warna luas
Kombinasi RGB colors bisa menghasilkan jutaan warna. Inilah mengapa foto atau desain terlihat detail dan kaya warna di layar digital. - Fleksibel untuk desain online
Sebagai desainer di Ben Multimedia, saya selalu menggunakan RGB saat membuat konten media sosial atau website, karena hasil warnanya sesuai dengan kebutuhan digital.
Kekurangan RGB
- Tidak cocok untuk percetakan
Banyak orang salah kaprah menggunakan RGB untuk desain cetak. Akibatnya, warna di layar terlihat cerah, tapi saat dicetak dengan sistem CMYK hasilnya kusam atau berbeda jauh. - Terlalu terang jika dipaksa untuk print
Karena berbasis cahaya, warna RGB adalah warna yang bersinar. Saat masuk ke dunia tinta, sebagian warna tidak bisa direplikasi dengan sempurna. - Membingungkan bagi pemula
Bagi yang baru terjun di dunia desain, sering muncul pertanyaan “Kenapa warna cetak beda dengan layar?” Padahal jawabannya sederhana: ada perbedaan RGB dan CMYK.
Perbedaan RGB dan CMYK
Nah, di sinilah sering terjadi kebingungan antara warna RGB dan CMYK.
Banyak orang bertanya “Jadi apa itu RGB dan CMYK? Apa bedanya?”
- RGB bekerja dengan cahaya → digunakan untuk layar digital.
- CMYK (Cyan, Magenta, Yellow, Black) bekerja dengan tinta → digunakan untuk percetakan.
Perbedaan RGB dan CMYK ini penting dipahami, karena jika salah memilih format, hasil warnanya bisa melenceng jauh.
Misalnya, desain brosur yang dibuat dengan RGB akan terlihat cerah di layar, tapi ketika dicetak dengan CMYK, warnanya bisa lebih kusam.
Sebagai contoh nyata, saya pernah mengerjakan desain undangan dengan warna neon yang menyala di layar.
Namun saat dicetak, warnanya berubah jadi jauh lebih kalem.
Dari situ saya selalu mengingatkan klien bahwa perbedaan tampilan warna di layar dan hasil cetak bukan kesalahan printer, melainkan perbedaan sistem warna yang digunakan.
Kapan Menggunakan RGB dan CMYK?
- Gunakan RGB untuk desain yang akan ditampilkan di layar digital, seperti website, media sosial, fotografi digital, atau video.
- Gunakan CMYK untuk desain yang akan dicetak, seperti majalah, brosur, poster, atau undangan.
Kesalahan paling umum adalah mendesain untuk cetak dengan format RGB.
Hasilnya? Warna cetakan jauh dari ekspektasi.
Jadi, penting sekali menentukan format warna sejak awal.
Kesimpulan
Sekarang sudah jelas kan apa itu RGB? Singkatnya, pengertian RGB adalah model warna berbasis cahaya dengan tiga komponen utama: merah, hijau, dan biru.
Warna RGB adalah kombinasi dari ketiganya yang biasa kita lihat di layar digital.
Juga jangan lupa ada perbedaan besar antara RGB dan CMYK, jika desainmu untuk digital, gunakan RGB, jika untuk desain grafis percetakan, pilih CMYK agar hasilnya sesuai harapan.
Sebagai desainer grafis di Ben Multimedia, saya selalu percaya bahwa memahami dasar-dasar warna seperti ini bukan hanya penting untuk profesional, tapi juga bermanfaat bagi siapa saja yang ingin karya visualnya tampil maksimal.